Friday, 30 September 2016

Surat terbuka: Kenapa saya begitu menentang komersialisasi aquaponik?

Surat terbuka yang ditulis oleh Pak Indra Gunawan ini sangat menarik. Memang, Aquaponik paling efekfif adalah ukuran kecil, di perkarangan atau di belakang rumah kita, bayangkan efeknya, jika tata ruang di Negeri ini baik, sehingga setiap rumah memiliki lahan yang cukup dan mendapatkan intensitas matahari yang baik untuk membangun sistem aquaponik. Tentu ketahanan pangan keluarga akan lebih terbantu, sehingga, dalam lingkup yang lebih besar, jargon kedaulatan pangan bukan lagi sebuah pepesan kosong.


-- awal surat terbuka --

Surat terbuka: Kenapa saya begitu menentang komersialisasi aquaponik?

Oleh : Pak Indra Gunawan 

Jujur, menjadi pikiran saya, ketika kemarin seorang teman aquaponiker, kelihatannya sakit hati, dan mengganggap saya tidak merasa dia orang baik. Ini muncul dari perdebatan kami di group yang cukup sengit, mengenai penentanganku terhadap pelatihan aquaponik berbayar. Itu membuat saya merasa berhutang, untuk paling tidak menjelaskan, kenapa saya begitu menentang hal tersebut.

Alasan utama saya adalah: Di luar negeri, aquaponik telah terkenal sebagai jenis pertanian yang sering disalahgunakan untuk penggalangan dana secara tidak benar. Ini bisa sering dibaca oleh teman-teman yang mengikuti group UVI Aquaponics dan Aquaponics. Bahkan, sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa hampir tidak ada farm aquaponik manapun juga yang bisa berdiri sendiri (kecuali farm yang mempunyai niche market yang sangat khusus, atau farm yang berada di daerah yang sangat terbatas airnya), kalau tidak di-support dengan penyediaan training-training berbayar yang harganya mahal. Untuk menarik murid-murid, mereka memberikan janji-janji yang fantastis, tetapi sesungguhnya tidak bisa direalisasikan. Semua ini, tentu mempunyai dampak yang berbahaya. Baik merusak nama baik aquaponik itu sendiri, ataupun bisa membangkrutkan para pensiunan lugu yang terjebak dengan janji-janji bombastis tersebut. Sungguh mengenaskan kalau para pensiunan itu akhirnya kehilangan semua simpanan usia tuanya, hanya karena diinvestasikan ke process aquaponics yang tidak bisa menguntungkan seperti yang dijanjikan. Dan, dari semua yang paling terkenal dengan janji-janji bombastis adalah seorang dengan intial MH yang justru saat ini sering dikutip sebagai "pakar" di aquaponik Indonesia, bahkan sebagian dari janji-janji yang muluk-muluk itu, justru menjadi referensi dalam buku aquaponik Indonesia saat ini. Padahal janji-janji tersebut telah dimentahkan oleh para aquaponikers yang berpengalaman di luar negeri. Hal-hal ini menunjukkan trend yang berbahaya, kalau terus dibiarkan berlanjut juga di Indonesia. 

Sebagai seseorang yang telah menghabiskan 3 tahun terakhir secara intensif mempelajari hal ini, bahkan dalam 1 tahun lebih terakhir dengan full time, saya merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk paling tidak mencegah trend tersebut menyebar di Indonesia dan merusak kemungkinan aquaponik mempunyai peran penting terhadap ketahanan pangan di negeri tercinta ini. Tuhan telah mengizinkan bahkan untuk saya mempunyai kesempatan mendapat pengalaman melakukan percobaan dalam skala yang lumayan ukurannya (1,750 ekor ikan dan lebih dari 20,000 tanaman, dengan total biaya percobaan lebih dari Rp. 700 juta, termasuk gaji saya setahun, dan belum menghitung nilai tanah) untuk membuktikan bahwa hipotesa saya adalah benar, bahwa aquaponik, meskipun mempunyai tempat yang sangat baik bagi ketahanan pangan di Indonesia, tetapi bukanlah seperti yang janji-janji muluk-muluk yang menyesatkan tersebut. 

Pada saat yang sama, saya dan teman-teman yang bekerja sama, menemukan bahwa, dengan design yang benar, aquaponik dapat diterapkan dengan baik di pekarangan-pekarangan rumah atau tanah-tanah sempit, yang sangat membantu menaikkan kesejahteraan gizi dan kesehatan bagi seluruh keluarga. Itu menunjukkan potensi yang sangat besar untuk memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan seluruh keluarga Indonesia yang mau melakukannya. Dan juga, dengan sendirinya memberikan Indonesia kebebasan dari ketergantungan akan bahan pangan dari negara lain. Saya sungguh tidak rela, kalau kesempatan itu hancur, hanya karena kehilangan kepercayaan orang-orang yang diakibatkan oleh janji-janji muluk yang tidak realistis dari orang-orang yang "menjual" training seperti di luar negeri. Itu akan merusak nama baik dan kemajuan dari aquaponik itu sendiri. 

Kita perlu mengembangkan aquaponik dengan corak Indonesia, yang tahan dan sesuai dengan iklim dan suasana alam Indonesia, seperti yang bertahun-tahun dikembangkan oleh orang-orang yang saya sangat kagumi seperti Pak Stephanus Nanang Dwianto dan Pak Henri Wiratsongko, yang kemudian membagikan ilmu itu dengan cuma-cuma, supaya bisa ditiru dan dikuasai semua orang dengan baik dan benar. 

Saya menulis ini bukan untuk berdebat, tetapi sekedar supaya bisa dimengerti, kenapa saya mengambil ini sebagai tanggung jawab moral saya setelah diberi Tuhan kesempatan untuk melihat semua ini. Saya khusus tidak share ini di group BBQ, karena kawatir para admin yang baru mungkin melihat ini sebagai kemungkinan provokasi. Tapi, kalau merasa ini perlu di-share juga, ya silahkan saja. Bagi saya, cukuplah saya bisa mengatakan ini supaya bisa dimengerti.

-- akhir surat terbuka --

BBQ sendiri belum mendapatkan data kuantitatif, cash-flow farm aquaponik komersial [1] yang memang 100% hidup dari hasil panen. Memang, banyak yang bisa dikomersialisasi dari aquaponik, selain menjual hasil panen berupa ikan dan sayuran atau buah, seperti [2] menjual produk-produk terkait aquaponik, memberikan layanan yang berhubungan dengan aquaponik seperti membuat desain, membangun dan memelihara sistem aquaponik, agrotourism, pendidikan agrikultur dan melakukan penelitian.

Referensi


  1. Aquaponik Skala Komersial, http://blog.belajaraquaponik.org/2015/06/aquaponik-skala-komersial.html
  2. Commercial Analyses, http://anacostiaaquaponics.org/production-analyses/

No comments:

Post a comment